Kamis, 23 April 2009

SERIE INTERNET MARKETING

BISNIS SEKSI BIKIN GREGETAN


Ini data saya dapat dari sahabat saya Heri rosyadi. Seorang yang bergelut bersama internet di Indonesia hampir 10 jam sehari selama 7 tahun terakhir ini. Menurut kumpulan data yang diperolehnya terdapat fakta...Pengguna internet di indonesia tercatat pada tahun 2008 mencapai angka 25 juta orang. 2 juta pelanggan tetap. Kebanyakan pengguna masih memakai fasilitas bersama seperti kantor ataupun jasa pelayanan lainnya.

95% membuka internet adalah mencari info. Mengakses data, search. Karena itu search engine penyedia jasa tersebut mendapat jutaan klik enter perharinya.

5% penyedia jasa informasi. Seperti para bloger, web programer, internet bisnis lainnya.

Dan hanya 0.18% yang mendapatkan keuntungan secara bisnis murni internet dari seluruh pemakai.

Dari data tersebut saya melamun.

Membayangkan 10 tahun lagi. Di Indonesia ada 100 juta pemakai internet. Dengan 20 juta pelanggan tetap. Sebuah pasar yang sangat besar. Saat ini saja kita sudah memiliki pasar yang limitless, tak berbatas.

Dalam 10 tahun tumbuh 400% atau 40% setahun. Itu adalah pasar yang sangat besar. Kepalaku jadi bertanduk, pikiran jadi liar. Muncul ribuan ide. Mumpung pasar masih mentah. Masih hijau. 95% pasarnya adalah orang yang memerlukan jasa yang kita sediakan. Beberapa hari ini aku tidak bisa tidur memikirkannya. Maklum..peluang tersebut sangat seksi.

Gregetan aku rasanya...

SERIE PRINSIP MENJADI ENTREPRENEUR


KISAH SOTO LAMONGAN

Semenjak tahun 1995 kami mendirikan sebuah lembaga penyantun yatim dan terlantar didaerah Jati Bening, Bekasi. inilah cikal bakal RUMAH YATIM INDONESIA. Awalnya tempat itu adalah toko swalayan yang saya bangun untuk memenuhi animo kebutuhan barang sehari hari untuk daerah sekitarnya.tahun 1992 hingga tahun 1996 saya memiliki beberapa swalayan yang akhirnya semua swalayan saya dibeli oleh sebuah chain store ternama.


Di tahun 1995 dan tahun-tahun sebelumnya memang kompetitor toko swalayan belum ada, namun sesuai dengan perkiraan saya pemain toko serba ada swalayan akan berkembang, bukan karena takut bersaing saya memindahkan Corporate action dari pasar swalayan ke yayasan yang terkesan idealis menyantuni anak terlantar. Saya melihat jika sebuah yayasan yang non profit tidak berorientasi keuntungan sekalipun, jika dikelola dengan profesional akan menguntungkan???


Menurut saya keuntungan itu tidak melulu berbentuk uang. Ada yang juga tidak kalah penting adalah kekayaan network atau kenalan atau saudara baru atau koneksi. Waktu itu saya percaya di daerah tersebut untuk waktu lama, jika kami menyantun anak terlantar tidak akan mempunyai kompetitor.


Bagaimana bentuk kekayaan bukan dalam berbentuk uang akan saya urai dalam tulisan berikutnya. Yang mau diterangkan dalam tulisan ini adalah Nilai Tambah pada bisnis atau istilah asingnya Value added.


Sebuah strategi dari para pengelola yayasan yang dipimpin oleh seorang reformis muda bernama Muhammad Aly yang tidak pernah mau memakai sorban dan baju koko, yang menggunakn pendekatan egaliter kesetaraan dengan mitra adalah membuat ‘warung soto’.


Suatu hari pak Aly baru datang setelah mudik pulang ke kampung halamannya di Lamongan, ia mendatangi kantor saya dengan ceria. “Mas aku baru pulang kampung! Wah, aku makan soto Lamongan dari saudara sepupuku di pasar lamongan, rasanya luar biasa, lalu aku nawari dia untuk buka cabang di Jatibening yang aku garansi pasti laku”.


Lalu cak Nur (sepupu pak ali) mengizinkan anaknya 2 orang yang sudah mengikuti dan mengerti cara membuat soto untuk berangkat.


“Sekarang saya sedang merapihkan ruang depan yayasan yang sekarang jadi tempat pengetikan komputer”, lanjutnya bercerita.


“Saya kasih AC dan aku rombak seperti warung asli dan aku taruh gerobaknya di depan warung biar kecium aroma soto lamongan dari orang yang lewat dan pangkalan ojek di depan yayasan”, Pak Ali merinci rencananya.


“Modal dari mana pak Ali?” saya bertanya.


“Gak banyak, AC aku nyicil dari temennya mas Wowiek si Amrin tukang kredit barang elektronik kira-kira 70.000 rupiah seminggu dan ongkos rombakan cuma cat aja yang harganya mahal. Kalo untuk tukang, anak-anak yayasan sudah mahir-mahir!” Jawabnya.


Seminggu kemudian 2 anak muda tampangnya lugu datang ke yayasan dan mendemokan masakannya, benar kata pak ali rasanya memang gurih dan wanginya khas.


Setelah mencari sumber-sumber bahan baku ayam, beras dan lain sebagainya dan pak Ali sudah mantap warung Soto dibuka di LA Café-Lamongan Asli café. Harga Rp 3.000 satu mangkok nasi dan soto.


Saya sempat kaget dengan harganya mana untung dagang dengan harga segitu di Jabotabek, “Ini strategi promo nanti akan dinaikan apa bagaimana?” saya bertanya. “


Ya memang segitu”, kata pak Ali mantap.


Dalam waktu 2 jam buka soto habis, demikian esoknya hingga sekarang telah hampir satu tahun. Saya penasaran, ingin mengtahui perkembangan.


Pak Aly menjawab,“Kalau secara materi impas-impas saja, ada untung sedikit, penjualan sehari bisa sampai Rp 400.000an tapi mas tahu nggak? Infaq dan sedekah harian dan bulanan ke yayasan sekarang naik 2 sampai 3 kali lipat.Donatur puas melihat anak-anak melayani dan terharu, banyak anak-anak kita sekarang mendapat orang tua asuh secara pribadi dan mereka ikut memonitor langsung perkembangan anak asuhnya. Itu nilai tambah ‘value added‘ bagi kita dan lingkungan mas!”

Sabtu, 08 November 2008

PRINSIP MENJADI ENTREPRENEUR

JUAL NILAI TAMBAH


Banyak pebisnis yang mengawali usahanya dengan menjual barang orang lain atau lebih dikenal sebagai pedagang. Contohnya kawan saya, Bang Ican yang tinggal di Medan, Sumatera Utara. Berdasar pengalamannya ia mengetahui bahwa harga mobil bekas di Medan lebih mahal jika dibandingkan dengan di Jakarta. Bahkan bisa mencapai selisih 3 juta rupiah. Jual mobil inilah lahan bisnis utamanya.


Sekarang dimana sebuah "nilai tambah" yang dia manfaatkan .


Ia melihat disekeliling, melihat yang terdekat. Begitulah cara pebisnis mencari peluang melihat yang dekat-dekat terlebih dahulu.


Ia lihat ruang di belakang mobil tersebut masih cukup lapang. Dan ia manfaatkan hal itu sebagai peluang. Dicarinya pebisnis lain yang berniat mengirim barangnya ke medan. Juga pebisnis seperti pengusaha kain, atau garment. Ia manfaatkan mobil tersebut sebagai jasa kurir.


Terkadang ia belanja sendiri barang Tanah Abang dan dijualnya barang dagangan tersebut sepanjang jalan pulang ke Medan.



Kepandaian seorang pebisnis seperti inilah yang harus anda asah terus menerus. "Setiap bisnis akan memberi peluang bisnis yang lainnya". Itulah sebuah nilai tambah.


Ada juga seorang yang memanfaatkan piring-piring di pasar loak kemudian dilukis dengan cat minyak dengan motif yang baru dan tidak umum sehingga saat menjamu tamu dekorasi piring tadi sangat tematik. Seperti pada acara ulang tahun motif lukisan dalam piring makan tersebut balon, hadiah warna warni.


Pada acara arisan dapat dipilih tema makanan, bahkan bisa juga untuk suvenir dari kantor atau sebagai piagam sebuah acara. Piring bekas dan cat minyak sangat murah harganya, seni melukis bukan hak orang tertentu, saya percaya semua orang bisa melukis dan berkesenian, hanya kebanyakan mereka tidak menyadarinya saja bahwa mereka memiliki hal tersebut. Cobalah.




Jumat, 17 Oktober 2008

PRINSIP MENJADI ENTREPENEUR

EMPATI PADA ORANG LAIN


Seringkali kita mengucapkan kata-kata Empati, atau berempati. Saya cari artinya, Empati adalah mengerti apa yang diinginkan atau dirasakan orang lain, seakan kita berada dalam sepatu orang tersebut, kita mengetahui apa yang mereka sukai atau tidak.


Rasa empati ini sangat dibutuhkan oleh seorang entrepreneur dalam melayani mitra usaha, pegawai terutama pelanggan. Menurut pengalaman saya, jika ada 2 orang berwirausaha dengan memiliki kepandaian dan jaringan yang sama, maka salah satu bisa lebih unggul dari lain jika ia memiliki kadar empati yang lebih tinggi pula.



Indonesia dalam dasawarsa 30 tahun terakhir, pembangunan berjalan cukup baik. Membangun perangkat kerasnya, pabrik berdiri, bangunan kantor, hotel, Plaza serta Mall berkembang di mana-mana. Ketika pembaharuan terjadi, penyadaran individu menyeruak naik, bangunan orde pak Harto rubuh . Banyak terjadi demonstrasi, pawai, mogok kerja, perusakan pabrik.

Ternyata pembangunan yang hanya mengandalkan hard-skill - ketrampilan luar dan tidak diimbangi ketrampilan hati membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang keras hatinya. Pemilik perusahaan mengeksploitasi karyawan, karyawan menuntut dengan kasar, penjual tidak jujur pada pelanggan, pelanggan sangat permisif-memaafkan sehinga didiamkan. Kalaupun dilakukan teguran, penjual tersebut tidak peduli, dibawa ke pengadilan semua kasusnya selesai dengan uang, namun masalah tidak pernah selesai. Semua orang seakan memendam rasa marah dan dendam. Berbisnis landasannya win-loose.


Rasnya Ini semua terjadi karena empati tidak dimiliki dan tidak p

ernah diajarkan lagi oleh para tetua, pemimpin dan role model bangsa Indonesia saat ini. Dan bagi saya ini adalah sebuah peluang bisnis soft-skill. Bahkan ada yang berpendapat bahwa saat ini agama banyak mengajari teori saja bukan contoh nyata kehidupanan, role model suda

h tidak ada. Semua yang saya sebut di atas adalah sebuah p

eluang besar bagi kita untuk mulai membangun.


Anda pasti tahu, untuk sukses di bisnis harus memili

ki empatik yang besar. Jika anda sudah memilikinya maka anda pasti menjadi pengusaha jangka panjang yang sukses.

Anda akan menjadi langka, unik, beda sendiri. Yang la

in culas, anda jujur, yang lain keras anda lembut, yang lain menyogok anda melingkar, yang lain murah mutu rendah, anda tetap mempertahankan mutu.

DIDIET STORY


Saya memiliki bengkel mobil modifikasi semenjak tahun 1993 di daerah Haji Nawi Jakarta Selatan, bermitra dengan seseorang sahabat lama, Mas Didiet, salah seorang pembalap jalanan yang disegani 20 tahun lalu. Teman-temannya hampir seluruh pembalap yang ada di banyak media dan mas Didiet adalah seorang mekanik terbaik untuk Speed Racing balapan kecepatan seperti Drag Race.


Bengkel ini bernama NEWSPEED dan kami memiliki nomor spesialis di balapan Drag race selama 5 tahun terakhir, bengkel Newspeed merajai kelas Ultra Drag. Kebetulan di TV beberapa tahun lalu ada siaran langsung kompetisi Otomotif Heat the night Drag Race bersama Tabloid Otomotif dan TV7 dalam kategori pembalap dan konstruktor untuk sementara kami berada di posisi klasemen nomor satu dari 350 peserta.


Mengingat masa itu, Kami sekeluarga di setiap hari pertandingan cukup deg-degan menyaksikan jalannya pertandingan yang disiarkan langsung di TV tersebut kala itu. Mengingat acara tersebut tengah malam dan mobil kami sudah harus menunggu dari sejak paginya sementara mobil tersebut tidak dinyalakan ignition-nya karena memang kami simpan kekuatan agar lawan-lawan tidak memperhitungkannya, sehingga kalau menggerakkan mobil tersebut harus didorong-dorong pada gear netral, sangat melelahkan.


Pada saat waktu pertandingan yang biasanya mulai jam 11 malam kami tetap bersemangat anak-anak di rumah menyaksikan dan sangat bangga dengan VW merah kami selalu menembus finish duluan pada jarak 201 meter kompetisi dengan waktu 7 detikan.


Di sisi manajemen mas Didiet mengelola bengkel dengan pendekatan otoriter, dia senang bermitra sama saya katanya karena saya nggak ngerti mobil sama sekali, jadi tidak pernah ngerecokin. Bisanya cuma jadi provokator kalau ada orang mau modifikasi dan bagi-bagi 3 bulanan uang sangu dari bengkel.


Dia sangat galak, otoriter dan perfeksionis untuk urusan mobil. Apa lagi tamu-tamu yang datang sekarang, mobilnya ajaib-ajaib dari Kijang Inova, BMW, VW Caravale sampai Porche datang untuk dimodifikasi. Kami memang mengambil ceruk pasar – Niche market yang tajam yang kami sebenarnya tidak menduga pasar kelas atas ini bisa sukses.


Yang saya kagumi dari bengkel ini adalah cara mas Didiet mengelola walau dengan tipe otoriter, adalah rendahnya biaya overhead bulanan termasuk gaji pegawai, padahal untuk bengkel spesialis mobil mewah montirnya biasanya bergaji mahal, apa resepnya? Semua montirnya adalah anak-anak jalanan yang terlantar yang dididik dari nol.


Pernah dia berkata pada saat saya dimana sudah hampir 3 bulan saya tidak muncul dan baru saat itu datang ke bengkel, “Wiek aku dapat 2 anak kurus kayak tiang masih 15 tahunan sudah hampir mati kelaparan datang ke bengkel, tak kasih makan lahapnya bukan main sekarang sudah dua bulan mereka tinggal di bengkel dan bantu-bantu aku di sini, tak ajari banyak pekerjaan, cepet banget mereka belajar dan mahir, sekarang sudah bisa las chasis, lihat hasilnya gak kalah sama tukangnya Astra,” katanya bangga. “Pokoknya aku bilang pada mereka, belajar dulu nanti aku kasih duit bulanan sesuai kepandaian, kamu makan tidur dijamin”.


Bisa dibayangkan sebuah ketrampilan dengan bayaran ilmu, makan dan tempat tidur sebuah bargain/tawar-menawar menarik, bukan? dan ini telah dilakukan sejak awal bengkel berdiri, dia kuat dan displin sekali di dalam duplikasi ilmu dengan cara otoriter. Rupanya seseorang cepat belajar jika di bawah tekanan agaknya. Dengan cara begitu, biaya bulanan bengkel sangat rendah, sehingga pelanggan betah kembali lagi ke bengkel Newspeed karena harga service yang ditawarkan cukup murah dengan mutu baik.


Banyak sudah alumni mas Didiet yang sekarang membuka bengkel sendiri dan memang dia sendiri secara pribadi menyarankan mereka untuk berdikari jika keterampilan mereka sudah fasih. Saya pernah bertanya, “sayangkan, mas, sudah capek-capek dididik mereka keluar?”


“Begini”, katanya menerangkan, “Kalau seseorang sudah menjadi ahli, maka secara profesional mereka menjadi mahal bayaran dan biaya bulanan bengkel kita bisa membengkak tinggi, lebih baik mereka berwirausaha sendiri dengan standar kita, sehingga kalau kita kelebihan order, kita bisa beri kepada mereka ordernya untuk dikerjakan, khan kita dapat harga khusus dong oleh mereka”, katanya memaparkan sintesanya.


“Kita secara langsung jadi tidak kerepotan ngurusi biaya bulanan. Begitu juga sebaliknya kalau mereka kelebihan order pasti mereka memberikan order tersebut kepada kita. Sedangkan kita akan terus menyetak kader sehingga kalau perlu suatu saat nanti kita tidak usah punya bengkel, tapi para alumnus kita ada puluhan bengkel berdiri dengan standar kita. Kita hanya memberikan ordernya. Jadi tidak pusing detail-detail pekerjaan harian dan membiayai gajih bulanan, tidak ngurusi ini itu, income pasti-pasti”, katanya panjang lebar.


Empatinya pada orang jalanan membawa peluang tersendiri bagi orang seperti mas Didiet.

Kamis, 11 September 2008

Break: Arsip dari Majalah Swa

Pertaruhan Helmy di Tepi Musi
Kamis, 09 Agustus 2007
Oleh :

Bukan berita baru, Helmy Yahya yang selama ini dikenal sebagai raja reality show masuk bisnis properti. Di luar gaweannya menggarap bisnis hiburan, ia juga Presdir yang memiliki saham di Marvin Reeves Indonesia. Sejak ia menanamkan modalnya, agen properti asal Belanda ini berkembang dengan konsep waralaba. Dan di bawah kepemimpinannya pula, pertumbuhan pesat diraih. Kantor cabangnya kini berjumlah 10, tersebar di Jakarta, Medan, Tangerang, Bandung dan Surabaya.


Namun, ketertarikan Helmy pada dunia properti, rupanya tak berhenti sampai di situ. Dalam waktu dekat, ia siap membangun hotel butik di Palembang seluas 1.500 m2. Hotel?

Benar. Diam-diam, sejak 2004 ayah empat anak ini memiliki sebidang tanah yang berlokasi di dekat Sungai Musi. Mulanya, ia berniat membangun rumah walet di sana. Akan tetapi, dalam perjalanannya, niat itu berubah. Selain melihat Palembang berkembang luar biasa, di saat bersamaan, Dinas Tata Kota Sumatera Selatan juga memerlukan bangunan yang bisa menjadi ikon ibu kota Sum-Sel.

Di tengah situasi yang berkembang seperti ini, tanpa diduga, ia bertemu Wowiek Prasantyo, pemilik Jatiwaringin Resident, yang tanahnya bersebelahan dengan tanah miliknya. Mereka kemudian sepakat menyatukan tanah dan membangun hotel butik di atasnya. Bersatu dalam proyek ini, menurut Wowiek, memiliki kekuatan tersendiri. Menurutnya, Helmy telah mewarnai dunia properti Indonesia melalui acara Bedah Rumah yang disiarkan RCTI beberapa waktu lalu. “Sekarang orang tidak kenal lagi istilah renovasi, melainkan bedah rumah,” Wowiek menuturkan.

Alasan lain Wowiek bergabung dengan bos PT Triwarsana itu lantaran adanya kesamaan pengetahuan tentang ibu kota Sum-Sel ini. “Saya 7 tahun tinggal di Palembang, sementara Helmy lahir di Palembang,” paparnya. Penggabungan dunia properti yang digeluti Wowiek dan dunia hiburan yang ditekuni Helmy, dinilainya akan melahirkan kerja sama yang unik. Di luar itu, proyek ini juga memberi kesempatan kepada pengusaha wong kito lainnya yang ingin berinvestasi di tanah leluhur.

Helmy mengungkapkan, hotel ini akan dijual dalam bentuk kemitraan. Rencananya, setiap kamar akan ditawarkan kepada investor dan pengelolaannya diserahkan ke pengembang hotel. “Sistem ini telah diterapkan di beberapa hotel seperti di Anyer dan Bali. Ini memungkinkan tiap orang berinvestasi dalam bentuk kepemilikan kamar hotel,” ia menerangkan. Untuk itu, ia hendak mengundang beberapa investor lokal dan menjanjikan return tetap selama dua tahun pertama 7%-8%/tahun. Selanjutnya, diterapkan sistem bagi hasil. Selain itu, investor memperoleh fasilitas menginap gratis selama 21 malam dalam setahun. Oleh pemilik kamar, kesempatan ini bisa diberikan kepada pihak lain. “Saya percaya, banyak orang Palembang yang sukses ingin memperkenalkan Sungai Musi kepada koleganya,” tutur pria kelahiran Palembang, 6 Maret 1963 ini.

Diperkirakan, pembangunan hotel bakal menelan dana sebesar Rp 40 miliar. Terdiri dari 51 kamar dan 7 lantai, pembangunan hotel dimulai September mendatang, dan rencananya beroperasi Maret 2008. Tujuh lantai menjadi pilihan karena punya makna mendalam: tujuh mata angin dan langit ketujuh. Adapun model bangunannya menggabungkan arsitektur modern dengan bangunan konservasi yang sudah ada sebelumnya. Kebetulan, Helmy menemukan sebuah rumah di Palembang yang umurnya diperkirakan mencapai 300 tahun dengan ukuran 13 x 47 meter. Bangunan ini rencananya akan dijadikan ikon hotel. “Saat ini perizinan sudah hampir selesai,” tandasnya.

Dalam operasionalnya, hotel yang bakal diberi nama Mahligai ini menggunakan konsep eksotisme. Maksudnya, tamu hotel akan dijemput dengan gondola (perahu kecil) dari Benteng Kuto Besak yang terletak di seberang hotel. Pendayungnya akan mendendangkan lagu Sebiduk di Sungai Musi hingga merapat di depan hotel. Setelah itu, tamu diturunkan di lobi terapung (floating lobby) untuk menikmati welcome drink. Kemudian, diantar menuju kamar hotel. “Saya menggabungkan konsep arsitektur modern yang di atasnya terdapat heritage. Ini karena saya senang mengonservasi barang-barang bersejarah,” tutur Helmy.

Nama Mahligai, menurutnya, memiliki arti rumah di awang-awang. “Konsepnya sudah tepat. Ketika malam redup, dari jauh hotel akan tampak seperti rumah di awang-awang. Itulah Mahligai di Sungai Musi,” ujar lelaki yang memperoleh gelar master dari University of Miami, Florida ini.

Pria yang murah senyum ini juga optimistis proyeknya didukung banyak pihak. Meskipun di Palembang terdapat banyak hotel bintang empat dan lima seperti Novotel, Aston dan Horison, ia tak merasa gentar. Sejauh ini, hanya hotel butiknya yang menghadap langsung ke Sungai Musi. “Pak Gubernur, Wali Kota, dan masyarakat setempat sangat mendukung proyek ini, karena memberi lapangan pekerjaan dan menambah kebanggaan kota,” ujar Helmy bersemangat. Bahkan, ia berani menjanjikan, hotel yang menyasar pasar menengah-atas ini akan menjadi landmark baru kota kelahirannya itu.

Kendati berani menjadikan hotelnya sebagai landmark, Helmy belum menghitung kapan pertaruhan modalnya akan kembali. Sejauh ini ia mengaku melihatnya dari sisi nostalgia bersama kawan lama. “Ketika kecil saya pernah telanjang mengarungi Sungai Musi demi berangkat ke sekolah,” katanya blak-blakan. Kendati demikian, ia memperkirakan investasinya akan kembali setelah mengarungi waktu empat-lima tahun. Seperti halnya Sungai Musi, investasi ini diharapkan akan mengalir sampai jauh.

Firdanianty/Andry Mahyudi.


URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/tren/details.php?cid=1&id=6355

Sabtu, 06 September 2008

Prinsip Menjadi 2

LIHAT KEBUTUHAN SEKITAR

Tahu ga’ kepandaian melihat kebutuhan ternyata sangatlah penting karena dari sinilah bisnis itu bermula. Untuk mempertajam dan memperbanyak wawasan sebagai referensi coba deh ikuti banyak seminar, bersilaturahmi. Mendengar cerita-cerita mereka yang sukses, langsung dari mereka yang sukses. Bagaimana mereka dapat bisa sampai pada posisi mereka pada saat ini.


Baca buku-buku praktisi yang dapat memberikan wawasan . Bergabunglah dengan segala macam kegiatan yang banyak mengumpulkan orang seperti perkumpulan keagamaan, klub olah raga, koperasi, eksekutif klub, rotary club, lebaga sosial, yang paling ampuh lagi adalah berpergian ke luar negeri yang perekonomiannya lebih maju dari Indonesia.


Anda pasti akan sangat terbuka dan terinspirasi dari kegiatan-kegiatan bisnis yang negara maju tersebut lakukan sehingga jarang ragu untuk menirunya. Tiru saja dulu jika anda melihat sebuah peluang bisnis di sebuah negara. kenapa meniru ?karena bisnis tersebut sudah terbukti berhasil dijalankan oleh mereka. Kemudian baru lakukan modifikasi sesuai dengan intuisi bisnis anda baru nanti anda kembangkan dengan variasi lain yang sesuai dengan perilaku pasar anda.


Banyak hal yang dapat diraih disekitar kita jika kita betul-betul jeli melihatnya ditambah lagi referensi yang kita dapati untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan. Sebenarnya sih terciptanya sebuah peluang bisnis karena sebuah bisnis kita JALANKAN. Tangkaplah sebuah peluang bisnis tersebut, kemudian pasti bergulir terus bisnis-bisnis baru dan itu akan sejalan dengan pemintaran dan pembelajaran yang anda dapat dengan melakukan peluang awal bisnis anda. Singkatnya, peluang bisnis itu selalu ada dan tidak pernah habis.


Sebenarnya bisnis saat ini beruntung, karena dengan otonomi daerah di Indonesia yang terdiri dari 250 suku bangsa dan 400 bahasa ini, banyak peluang usaha yang dapat kita bangun misalnya membuat souvenir shop dan produk pada setiap kultur budaya anda, sehingga selang waktu berjalan para turis manca negara atau turis lokal pasti mulai berdatangan karena memang kebudayaan itu sangat menarik untuk diketahui dan di masa itu anda telah siap dengan produk-produk yang menarik baik sebagai memoribilia atau produk kebutuhan industri atau juga kebutuhan sehari-hari seperti pakaian atau makanan Khas daerah tertentu tersebut. Tak usah menunggu datangnya turis dulu baru kita buat.


“Sebelum mereka datang buat dulu, percaya saya”


Contoh lain misalnya, jika anda adalah seorang sarjana atau mahasiswa fakultas matematika, ilmu yang anda miliki segera anda manfaatkan sebagai peluang bisnis, ajarkan ilmu anda kepada para siswa SD, SMP, SMU dan kemudian anda banyak melihat peluang-peluang lain setelah itu. Atau anda mengerti akunting jadilah penyedia jasa akunting buat para pengusaha Warung Tegal tersebut, atau toko kelontong di daerah sekitar anda tinggal, bisa anda tawarkan setiap 3 bulanan anda audit dengan bayaran misalnya Rp 300.000 peraudit, dari sini pasti kemudian anda banyak dapat kenalan dan terbuka peluang binsis baru.


Peluang lain, jika anda seorang sarjana atau mahasiswa bahasa apapun itu jual-lah kepada tetangga, saudara, lingkungan anda, banyak kebutuhan untuk hal tersebut, kita harus siap era globalisasi karena penguasaan bahasa asing sangat dibutuhkan.


Tangkap dulu setiap peluang, tidak ada usaha yang sia-sia. Peluang bisnis lain pasti mengikuti. Bisnis itu terus berkembang mengikuti anda yang tidak berhenti berusaha dan belajar.


Town House Story


Masih berbicara dengan senior arsitek sahabat saya Bapak Edi Utoyo di kantornya yang sangat impresif penuh dengan karya sentuhan pribadinya pada ornamen dekorasi. Saya secara pribadi memerlukan berkonsultasi dengannya mengenai minat saya membangun property di lahan saya di daerah Jakarta Timur.


Saya uraikan visi saya kepadanya. “Pak Edi, aku melihat peluang saat ini property berkembang baik aku berminat membangun townhouse seperti di film seri TV Melrose Place yaitu sebuah cluster yang tidak terlalu besar di mana pemilik property tersebut menyediakan sharing backyard, berbagi halaman belakang misalnya ada kolam renang atau taman yang indah dengan rumah 3 lantai atau mini condominium atau mini apartemen?” Kataku menyelidik. Dengan sangat rinci saya menceritakan visi saya untuk membangun property tersebut. Dia menjawab, “Makan yuk, aku lapar nih..”


Kami berpindah kemeja makan di kantornya yang sudah menyediakan ayam goreng favoritnya, lengkap dengan kentang goreng dan salad, “Maaf, gak tersedia nasi di sini, lagi ganti variasi makanan”, katanya serius.


“Begini Mas”, dia memulai pembicaraan. “Sebelum kita membangun, kita lihat filosofis bangunan yang akan kita dirikan. Misal apartemen, adalah bangunan yang kebanyakan disewakan fungsinya, Condominium adalah kepemilikan atau konsep jual hanya hak atas tanah dibagi oleh seluruh pemilik gedung biasanya dengan strata title hak kepemilikannya kayak HGB (hak guna bangunan), Townhouse kayak real estate biasa karena konsep rumah kota biasanya bertingkat dan tanahnya kecil 100-250 meteran namun bangunan standar lux atau rumah perumahan biasa tipe 45-72, 150 meter dan lain sebagainya”, lanjutnya sambil mengunyah makanan.


Sangat santai ia hari ini begitu juga saya. “Nah, di daerah sekitar tanah yang mau kita bangun apa type rumahnya atau apa tipe komunitasnya. Kita harus membangun sesuai dengan meliu daerah tersebut”, katanya menyelidik. “Kalau tipe kecil kita juga membangun berkisar besaran yang sama. Kalo besaran tanah 500 meteran pun demikian, kita nyamain”. “Kenapa?”, Aku bertanya. Manusia cenderung berkumpul dengan level strata yang sama begitu juga setiap mahluk hidup. Sangat nyaman berkumpul dengan sesama. Apa cocok daerah tersebut dengan apartemen atau condo?


“Kalau aku membangun Club House, yang ada kolam renang , fitness, salon, tenis dan lain-lain”, tanya ku lagi. “Ada berapa unit rumah yang tinggal di daerah tersebut berada di komunitas kelas A atau B, Komunitas A adalah seperti daerah Mall Kelapa Gading, Mall Pondok Indah, Mall Bintaro Jaya. Komunitas B adalah seperti daerah perumahan di pinggiran Jakarta seperti BSD, Cibubur, Jati Bening.” Katanya merinci. “Karena, club house untuk olah raga cocok untuk komunitas B dan A, kelas C seperti mereka yang tinggal di BTN atau komunitas D yang marginal tak memiliki pekerjaan resmi walaupun tidak bisa dikatakan mereka tidak memiliki pendapatan, datang ke Club House menjadi sebuah barang mewah,” Katanya lagi.


“Ada lebih kurang 500 rumah komunitas A, 1000 komunitas B, C dan D ada 2000 rumah dalam radius 2 km dari lokasi jika centrumnya lokasi tersebut”, kataku lagi. Saya memang sudah melakukan marketing intelegen di daerah tersebut. Dan ini merupakan kebiasan saya sejak dulu bahkan sejak dari masih bujangan. Dengan cara bersepeda sore-sore dengan anak-anak, aku menghitung jumlah rumah, mobil dan segala ornamen di sekitar asset mereka.


“Rasanya masih kurang banyak ya”, katanya sambil mencari referensi di benaknya. ”Tapi aku melihat peluang” katanya lagi, “Mas Wowiek punya temen banyak celebrity di daerah situ khan? Kita bisa jadikan dia Anchor atau jangkar pemasaran seperti Ade Rai fitness atau Vena melinda fitness. Maka radius kita bisa melebar kalo konsepnya unik. Sekarang kembali ke Mas Wowiek, mau diapakan?” Katanya dengan tenang.

Jumat, 15 Agustus 2008

Bagaimana menjadi Entrepreneur

Prinsip Menjadi 1

Imagination Create my Reality

Apakah hari ini anda bermimpi? Mimpi bukan saja bunga tidur atau keinginan “Maya” tapi Impian bisa menjadi motivator kesuksesan yang sangat ampuh. Tanpa impian dunia ini tak berwarna, tidak hidup. Bahkan mimpi bisa jadi bahan pembicaraan dan pembuka jalan pergaulan yang baik. Sekarang banyak orang yang menjadi pengarti mimpi. Bayangkan berapa keuntungan yang didapat hanya untuk mengartikan sebuah mimpi orang lain.

Bicara mimpi, semua hal yang diciptakan manusia diawali dengan impian. Para pemimpi besar seperti Leonardo Da Vinci adalah orang-orang yang memancing para pelaku untuk mewujudkan impiannya. Da Vinci dikenal dengan lukisan Monalisa-nya adalah perancang, dan pemimpi hal-hal yang sekarang disebut Tank amphibi, Parachute-terjun payung. Mesin mobil pertama dirancang dan diimpikan olehnya, yang dia tuangkan dalam sketsa-sketsa goresan yang sangat melegenda, tanpa coretannya kita tidak terinspirasi. Da vinci sendiri memerlukan masa hampir 500 tahun untuk mewujudkan impiannya melalui orang lain tentunya.

Cerita lain, Jules Verne penulis buku round the world in 80 days di abad 19-an merancang sebuah alat yang dapat mengirim tulisan dari jauh yang terbukti 70 tahun kemudian yang kita sebut sekarang alat faximili.

Selain mimpi, ada lagi yang disebut inspirasi. Contohnya begini, perilaku orong-orong atau binatang tanah dalam menggempur tanah yang meng-imajinasi orang untuk membuat mesin alat berat penggali tanah caterpillar. Lalu dari Back Hoe untuk menggambil barang yang jauh mengunakan imajinasi dari belalai Gajah, Buldozer dengan kuku di belakangnya seperti binatang undur-undur dan masih banyak lagi kegiatan manusia yang berawal dari sebuah imajinasi yang dipancing dari perilaku sekitar.

Nah, bisa disimpulkan keberanian ber-imajinasi sedikit banyak menentukan sukses anda sebagai entrepreneur.

Edy Utoyo Story

Dikalangan dunia perarsitekturan Indonesia nama ini sangat populer. Kalo anda orang Jakarta atau pernah ke Jakarta dan melihat Keong Emas, nah itu satu dari sekian mahakarya beliau. Bagi saya Bapak Edi Utoyo adalah seorang guru dan sahabat saya. Suaktu ketika sang Arsitek senior ini mendapat penawaran membuat gedung pencakar langit di tengah pusat kota Jakarta. Maka pertama kali yang dilakukan adalah melakukan wawancara dengan sang pemilik gedung apa yang di impikan olehnya, bayangan gambaran apa yang terlintas dalam niatnya. Setiap keinginan dan impian dari pemilik gedung dicatatnya dengan rapi. Puas dengan informasi yang didapat ia mengadakan rapat dengan tim di Utoyo

Proses kreatif arsitekpun segera dilangsungkan. Garis-garis gambar dirunut dengan rinci. 1 bulan kemudian cetak biru gedung tersebut selesai yang kemudian dipresentasikan kepada pemilik gedung, yang langsung mengangguk setuju. Jujur, saya sangat mengagumi caranya mempresentasikan bisnis sehingga sesuai dengan impian pemilik.

Pernah aku bertanya seputar kehandalannya berpresentasi. “Bagaimana caranya pak Edi menjelaskan kepada pemilik gedung dan dengan segera mereka disetujui?”.

“Ok, kami sudah melakukan wawancara yang rinci tentang impiannya, kami hanya menvisualkannya, jadi itu bukan mimpi kami tapi mimpi pemilik gedung tersebut. Imajinasinya yang kami gambar. Tanpa imajinasi gambar tersebut tidak terwujud, dan tanpa gambar cetak biru rancang bangun tersebut bangunan tersebut tak akan pernah jadi.” Urainya singkat.

Kesimpulannya, begitu juga dengan kita di dalam kehidupan ini. Seluruh kenyataan ini adalah hasil dari imajinasi karya pikir orang-orang sebelum kita, atau kita itu sendiri yang berani diwujudkan. Mobil Mercy itu dulu dari buah pikir seseorang, Monas adalah buah pikir Bung Karno, Disneyland adalah buah pikir Walt Disney, yang mengatakan Imagination create my reality-Impian menciptakan kenyataan dalam hidupku.

Berani mimpi?